BERSAHABAT DENGAN KESUNYIAN

Posted: Mei 6, 2010 in Uneg-Uneg

Malam yang sunyi rasanya Terpecah dengan datangnya para teman-temanku, tidak tau darimana mereka, Santoso, Qomar, Hasan, menghampiriku “Hai…..Makhlu….(nama sebutan atau laqop dari teman-teman yang aku peroleh) lagi ngapain? Jangan terlarut dalam kesedihan?” mereka berusaha menghiburku, seakan-akan tahu apa yang sedang aku alami, namun dengan kegaduhan teman-teman bersenda gurau tidak bisa memecah kesunyian didalam hatiku walaupun mulutku ikut tertawa, hanya menghormati teman-temanku yang ingin menghibur aku

Malam mulai menghembuskan hawa dinginnya, satu persatu temanku berpamitan pulang, dalam kesendirian, aku berfikir apa saja yang harus kepersiapkan besok buat sekolah adiku yang masih berada di bangku RA dan keperluan sekolahku juga, sambil menengok adikku yang sudah terlelap karena capek seharian bermain

Mentari pagi menjemputku untuk beraktifitas.  Kewajiban yang tidak bisa aku tinggalkan, menyiapkan segala kebutuhan adikku untuk sekolah, dari membangunkan pagi-pagi sampai menyuapi, untuk bersiap-siap agar aku tidak terlambat pergi ke sekolah, padahal masuk sekolahnya agak siang dariku dan dia selalu yang awal dari teman-temannya bahkan dari gurunya juga

Hari-hariku yang dipenuhi dengan kesibukan merawat dan menghibur seorang anak yang kehilangan belaian kasih sayang disaat seumurnya yang tidak bisa dilepaskan dari dakapan-dekapan kasih sayang dari Ibunya dan aku harus berperan menjadi ibu baginya, walaupun aku merasa tidak bisa menggantikan peran posisi Ibu

Le..”pangilan akrab dan rasa sayang pada adikku “ayo bangun! waktunya sekolah…””.sebentar..kak” jawabnya! “Ayo… nanti terlambat…kakak!” Aku harus membereskan semua kebutuhannya sebelum aku berangkat kesekolah

Dia yang masih lucu dan polos belum tahu apa-apa harus aku temani dalam kesepian tanpa belaian kasih sayang dari Ibunya, tidak seperti layaknya teman-teman sebayanya, dia harus berjuang menghibur dirinya berusaha berbesar hati apabila melihat temannya bermanja-manja di pangkuan dengan belaian-belaian manja.

Pagi berangkat kesekolah tanpa lambaian tangan dan kecupan kasih sayang dan pulang tanpa ada yang menyambut untuk menyuapi bahkan untuk ganti bajupun dia harus berusaha sendiri, sampai sering dia makai baju kebalik, tapi dia tidak menghiraukan bahkan aku kadang sempat tertawa tapi, terenyuh dalam hatiku karena kekonyolan yang aku lihat.

Saat malam tibapun dia harus belajar sendiri tanpa ada yang mendampingi, saat tidurpun dia harus mengukir mimpinya sendiri, dan tidak ada yang bercerita untuk mengantar dalam tidurnya

Sering dalam tidurnya aku memperhatikan dia menggigau, kadang masalah bermain ataupun bertengkar dengan temannya, memang anak kecil tidak mengenal waktu saat bermain. “Jangan! ini milikku.. kamu jangan nakal…”sering menggigau seperti itu.

Sedangkan aku harus berada disampingnya disaat-saat dia membutuhkan seseorang yang  mengerti tentang dia, dikala senang, susah, apalagi sakit.

Tak ada keluhan ataupun permintaan yang berlebihan yang keluar dari mulutnya, dia sungguh memahami keadaan yang kita hadapi bersama-sama, menghadapi kehidupan dengan penuh liku-liku dan jalan terjal yang harus dilewati serta tak ada pilihan lain. Hidup tanpa kahadiran sorang Ibu disamping

Setelah pulang sekolah aku langsung mencari adikku yang sedang bermain, dan aku dapati dia bermain dirumah temannya, langsung aku panggil “le… ayo pulang! waktunya istirahat sudah siang….. nanti main lagi kalau sudah tidak panas ..” dia langsung menghampiriku dan aku bonceng pulang

Dirumah aku suapin makan dan setelahnya aku suruh tidur….sambil mengantar tidur aku bertanya-tanya tentang sekolahnya “bagaimana tadi sekolahnya diajari apa saja?” Tanyaku! dia menjawab sambil berlari mengambil secarik kertas di tasnya

“oya kak! disekolah tadi Ibu guru bilang akan pergi ke kebun binatang..” sambil memberikan selembar kertas pemberitahuan tentang acara kelas akhir. Aku baca dengan seksama” ya sudah sekarang istirahat dahulu nanti ngajinya agar tidak terlambat…” Jawabku!

Aku termenung disamping tidurnya, memikirkan acara rekreasinya, siapa yang akan mendampingi adikku masak aku? tidak mungkin lah malu aku..! Akupun punya rencana sebelum acara perpisahan dua hari sebelum teman-temannya berangkat akan aku ajak adikku saja kerumah kakekku agar dia tidak sedih melihat teman-temannya berangkat, semuanya pasti didampingi oleh orang tuanya masing-masing, aku takut adikku iri melihat teman-temannya yang bermanja-manja dengan Ibunya untuk meminta dibeliakan itu, yang itu….

Tiba-tiba, sore hari datang salah satu gurunya kerumah menemuiku, suara salam terdengar didepan pintu “Assalamu`alaikum…?” wa`alaikum salam mari masuk..! o… buguru silahkan duduk..” Jawabku!”gini kami khawatir Hudi adik pean! tidak ikut rekreasi kasihan nanti! masak tidak ikut sendiri? Pean saja ikut mendampingi tidak apa-apa kok?”Belum sempat aku menjawab Bu Guru terus mendesak agar aku ikut.. “Insyaallah….” Jawabku!

Pagi yang cerah aku harus menyiapkan semua keperluannya, aku berangkat bersama adikku, dengan berjalan menuju kendaraan sambil memperhatikan teman-teman sekelasnya serta orang tua yang mendamping anak-anaknya, hanya adikku yang berangkat yang tidak bisa duduk dipangkuan kasih sayang, dia harus berbesar hati melihat teman-teman disamping-sampingnya.

Sampai ditujuan semua berjalan sambil bermanja-manjain anaknya, dengan membelikan apa yang diminta anaknya, tetapi adikku diam tidak minta ataupun rewel, kalau tidak dibelikan ya diam, sebenarnya aku malu dan kasihan melihat keadaan seperti ini tapi aku berusaha tersenyum agar dia bisa menikmati liburannya dengan teman-temanya, ketabahan hatinya membuat aku sulit meninggalkan dia sendiri

Pagi berangkat tanpa lambain dan kecupan kasih sayang dan pulang tanpa adanya sambutan dan suapan makan, begitu terus perjalanan hari-hari kami menyambut mentari terbit dan mengantar sang surya pamit. Kami hadapi dengan tegar bahwa badai akan berlalu! itu yang selalu kami harap.

Dikala bulan penuh barokah, bulan Romadlon bertamu ke rumah, kami harus menyambut dengan berbesar hati tanpa adanya makanan-makanan yang mungkin sangat dinanti banyaknya umat Islam disaat berbuka puasa dan disaat sahur, kami harus berbuka dengan makanan seadanya  yang bisa kami masak, karena kesibukan kami, kita bertiga yang mempunyai kesibukan sendiri-sendiri tiap hari, membuat waktu untuk memasak tidak ada serta kemampuan untuk memasak makanan yang enak yang tidak kami punyai, habis kami bertiga pria semua yang jarang sekali berurusan dengan dapur

Disaat gema takbir mulai bergema, sewajarnya orang yang telah berjuang dan kemenangan sudah ada di tangan pasti dia senang dan akan merayakan dengan kemenangannya, beramai-ramai bergerumun pergi ke pasar belanja untuk mempersiapkan pesta kemenangannya

Dirumahku, kita bingung, harus berbuat apa, yang harus disiapkan apa saja, hanya keheningan dan sepi menyelimuti rumah kami, tangis dan derai air mata merayakan hari kemenangan dengan keluarga yang tidak bisa kumpul semua, ya.. cuma Ayah, aku dan adikku, bertiga kita merayakan dengan suasana kerinduan akan bisa berkumpul bersama Ibuku, dikala para tetangga ramai canda tawa bergurau sambil menikmati hidangan di meja,  bersama dengan keluarganya yang jauh dan berkumpul, aku hanya bisa berharap semoga kebahagian seperti itu bisa aku alami esok hari….! Dengan hati teriris aku berharap!

Dua tahun lebih kita jalani  kehidupan itu, dengan lapang kita terima sambil berharap esok ada hari yang cerah bersinar dikeluarga kami..

###

Setelah sekian lama kita berharap bisa berkumpul satu keluarga lengkap dan kita akhirnya bisa merasakannya hal itu, namun itu semua tidak bisa lama hinggap di kelurga kami, rasanya seperti kemarin! kita bisa berkumpul, makan satu meja, nonton TV satu tikar, setelah sekian lama kita berkumpul tanpa kehadiran Ibu disamping kami. Disaat-saat aku harus berjuang menyelesaikan kuliahku yang tinggal skripsi, yang menguras fikiran dan tenaga tak ketinggalan biaya yang tak sedikit. Sehabis sholat tarawih ponselku berbunyi aku lihat dari Ari, teman satu desa dirumah

“Assalamu`alaikum… !” ” waalaikum salamm..” jawabku!

“Makhlu..! kamu harus ke Surabaya sekarang!” ” Ada apa?”

“Ibu dan Ayah kamu sekarang dirumah sakit Surabaya” langsung kaget hatiku dan bertanya dalam hati kenapa dan kenapa?” Oya tapi tidak malam ini sudah tidak ada kendaraan, besok setelah sholat subuh aku akan berangkat terimakasih..” jawabku!

Disaat hati dirundu khawatir aku juga butuh teman untuk menggantikan tugasku kalau aku berangkat, semulanya aku tinggal sendiri dikamar kacil disamping Mushola sambil marawat mushola yang disedikan untukku oleh pemilik mushola, biasa mahasiswa yang goceknya kurang, cari tempat yang gratis, aku memilih tinggal sambil merawat mushola mencari tempat yang tenang dari hiruk pikuk urusan para aktifis kampus yang sudah saya tinggalkan semenjak semester akhir kemarin, agar skripsiku cepat kelar.

Tiba-tiba temanku datang Aan namanya dia cari tempat sementara untuk menunggu wisuda,dia kuliah dikampus yang berbeda denganku, aku kenal waktu diorganisasi, salah satu kelebihan anak yang aktif di organisasi banyak kenalan dan temannya, tapi sering teman-teman, kuliahnya banyak yang molor “Makhlu.. aku ikut tinggal ama kamu boleh gak? Soalnya masa kosku udah habis dan aku tinggal nunggu wisuda sambil nyiapin keperluan untuk wisuda”

“Ye yang mau wisuda udah dapat PW (pendamping wisuda)belum? ejekku! Ya… kebetulan besok aku mau pergi ke Surabaya yang tidak tahu berapa lama tolong nanti tugasku merawat mushola kamu yang gantiiin, ya!” kataku!

“Oo…gak apa-apa tenang aja!” dia setuju, langsung aku beri tahu apa saja yang harus dikerjakan! Sebelum aku berangkat karena aku terburu-buru aku minta tolong lagi kepadanya “o…ya An tolong nanti sekalian rapikan lembaran-lembaran skripsiku  beserta buku-bukunya disamping komputer.. aku belum sempat merapikan karena baru dari konsultasi dan mau aku revisi”

“beres! asal aku boleh tidur disini gratis!.. jawabnya! dan aku juga diantar sekalian ke terminal  naik motornya

Saat aku tiba di rumah sakit aku melihat Ibuku duduk termenung lemas karena puasa, yang jelas sedih juga, disamping Ayahku yang sudah terbaring dengan selang oksigen di mulut serta tidak bisa bicara, aku tidak tahan melihat kondisi beliau.

“Assalamu`alikum… Bu!” “wailakum salamm….” Jawab Ibuku! Langsung Ibuku mendekapku erat-erat sambil menangis dengan mangggil Ayahku “Ini anakmu sudah datang ayo bangun dan cepat sembuh! Tetapi ayahku tetap diam tenang namun tetesan air mata membasahi pipi beliau yang kering dan kukecup tangan beliau yang lemas dan hangat tak ada daya sama sekali ditangan beliau untuk membelaiku..

Tepat satu minggu aku menunggu disana, tetapi Tuhan berkehendak lain aku pulang harus membawa Ayahku bukan dengan senyum dan tawa namun dengan tubuh tertutup kain putih aku bawa pulang.. orang-orang pada berdatangan menyambut kedatanganku untuk mengantarkan Ayahku yang terahir…. Aku berusaha tegar menyambut orang-orang yang berdatangan…

Setelah keadaan sudah agak tenang selang kurang lebih satu bulan, Kini setelah itu semua aktifitas harus berlanjut, belum saatnya untuk berhenti. Aku yang anak yang lebih tua pasti beban Ayahku aku yang harus memikul, tetapi aku masih punya tugas terahir yang terbengkalai dan tak terurus, aku harus pulang pergi kekampus dengan lama perjalanan dari rumah ke kampus tiga jam harus aku lalui, untuk mengerjakan skripsi, agar sekripsiku beres, banyak jalan menuju ke Roma, kilahku, karena Ibuku tinggal sendiri dirumah, adiku di pondok yang tiap hari tidak bisa meninggalkan aktifitasnya mengarungi samudra ilmu.

Tinggal satu langkah aku tidak mau menyia-nyiakan perjuangan orang tuaku terutama ayahku, yang tidak sempat melihat karyaku, serta tidak sempat aku membuat tersenyum beliau, aku persembahkan buah karyaku untuk ayahku….. itu yang membuat diriku semangat sambil dibantu teman-temanku yang tidak lelah-lelahnya memberiku semangat!

Di saat-saat wisuda suasana gembira terhalang dengan suasana haru dan derai air mata, membasahi baju kebesaran kami para mahasiswa yang habis di wisuda, tak tahan apabila aku melihat seorang menangis apalagi Ibuku, tak terasa mataku mulai kabur karena genangan air yang berada dimataku, sambil terbata-bata aku berkata menenangkan Ibuku, “sudahlah Bu..” ” maafkan Ayahmu tidak bisa mendampingi kamu dihari bahagia ini..!” kata Ibu dengan derai air mata yang tidak henti-hentinya keluar

Disaat-saat suasana seperti mulai terbiasa, aku hidup bersama Ibu, berdua, kami mengisi hari-hari memecah kesepian dirumah tanpa kehadiran Ayah.

Selang waktu yang lama Ibuku tiba-tiba duduk disampingku sambil merangkul aku dengan kasih sayang beliau berkata “Nak! Ibu mau pergi ke tempat dimana Ibu bisa merasakan kedamain hati..”

“Kemana Bu? Jawabku! “Ketempat dimana negeri itu para nabi dilahirkan dan dimakamkan…” Entah angin apa aku merasa tersambar guntur disaat hujan yang sangat lebat, tiba-tiba Ibuku minta izin kepadaku bahwa beliau ingin pergi ke tempat yang pernah beliau kunjungi dahulu dimana hati beliau bisa tenang dan merasa dunia beliau ada disana

Aku teringat masa laluku langsung yang aku jalani bersama adikku yang rindu dengan belaian kasih sayang dari Ibu serta susana kebahagian berkumpul bersama, kini apa yang aku harapkan dahulu belum menemukannya sudah pergi satu lagi isi kelurgaku, baru kemarin kami ditinggal sang pelita keluarga Ayahku dan belum hilang rasanya, kini Ibuku harus berpamitan meninggalkan kami

Sebenarnya aku sudah berusaha merayu agar mengurungkan niatnya, beliau ingin pergi ke negeri para Nabi, beliau berharap bisa berziarah ke makam-makam para nabi, dan bisa beribadah Haji tiap musim haji. Tetapi usahaku nihil tidak ada pengaruh sama sekali dengan niat beliau yang kuat

Memang orang tuaku sudah tidak berkewajiban terhadapku aku sudah dewasa dan memang harus bisa mengurus segalanya sendiri, bahkan aku yang berkawijiban membuat hati orang tuaku bahagia, ridlo Allah adalah ridlo orang tua dan murka Allah adalah murka orang tua, aku takut dapat murka Allah, mungkin dengan mengikhlaskan kepergian beliau, Allah mebukakan jalan ridloNya

Siang hari aku bersama adikku dengan derai air mata dan hati yang teriris, kami melepas kepergian beliau yang masih berharap kami bisa berkumpul dengan dekapan kasih pada pangkuan beliau.. hanya tinggal Ibuku yang bisa membelai kasih sayang pada kami

Dengan hati teriris aku menguatkan hati adikku, “adikku kini kamu sudah dewasa dulu saat kita pertama kali ditinggal Ibu ke negeri sana kamu masih duduk di RA dan kakak masih di MTS kini kamu sudah duduk di MTS, memang dulu kita mengharap kehadiran Ibu, tak lama kemudian kehadiran Ayah yang tidak ada disamping kita, namun kini keduanya sudah tidak disamping kita, hanya kita berdua, kamu harus bisa menjaga dan berfikir yang terbaik untuk dirimu, kejar impianmu jangan berhenti karena jalan yang terjal atau berlubang dijalan ini, memang tidak ada pilihan dan harus kita lewati untuk melanjutkan perjalanan, masih jauh perjalanan kita”,Kataku sambil merangkul adikku!

Sekarang aku sendiri dirumah, sunyi senyap sudah rumahku sudah tidak ada suara riuh gorengan-gorengan ataupun suara piring-piring

Kini hanya berteman sepi dalam hidupku, sering aku teringat masa-masa kebersamaan waktu makan, nonton TV, pergi ke sawah. Kini aku harus hadir dengan kesendirian menatap mentari terbit dan melawan dingingnya malam.

Dalam hatiku yang selalu berharap masih ingin dibelai, didekap di pelukan oleh Ibu, ataupun Ayahku, Adikku yang sepulang dari pondok, biasanya rindu bertemu Ibu untuk bermanja-manja, setiba dirumah disambut Ibu dengan kecupan kasih sayang karena rindu lama tidak bertemu, sekarang hanya tatapan rumah kosong tanpa penghuni.

Dikala makan ada yang menemani, disaat tidur ada yang menyelimuti agar tidak kedinginan, disaat pulang dari sekolah ada yang menyambut untaian salam, disaat sakit ada yang memegang kening dengan lembut, kini, meja, lemari, tembok, yang menjadi pendamping setiaku, hidup berselimut kesepian, kesendirian, kadang-kadang derai kerinduan hati tidak terasa membuat aku termenung meratapi dan tidak percaya dengan apa yang aku alami, hidup sendiri yang harus mengurusi ini itu semuanya dengan sendiri, dengan keheningan aku mengeluh, dan memecahkan masalah yang belum aku temukan jawabannya, sudah tidak ada yang bisa aku ajak untuk aku mintai saran.

Ah.. tak ada gunanya aku mengeluh aku akan berusaha tegar seperti karang yang selalu tegak dihantam ombak, aku tidak ingin keadaanku menjadikan aku hidup dalam kesedihan, mengaharap belas kasihan orang lain, pantang bagiku hidup seperti itu

Aku ingin berdiri di kakiku sendiri, makan dengan tanganku sendiri, walau aku masih merasa terseok-seok dengan semua ini, mentari esok masih terbit dan masih banyak waktu untuk merubah semua. Aku harus belajar bersahabat dengan kesunyian dan kesendirian agar aku bisa menikmati dan berkarya.

(M. Luthfi* Cerpenis dan novelis kota santri, alumni mahasiswa sastra arab UIN Malang, tinggal di Tembelang Jombang.

No Rekening : 0039326008 BNI

Tlp : (0321) 6224506

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s